Pra Desain Pabrik Hidrogen dari Coal Bed Methane


Intisari 

Hidrogen merupakan unsur yang paling melimpah di bumi namun dalam bentuk senyawa gas H2 sangat jarang tersedia di alam. Pemanfaatan hidrogen terbesar yaitu untuk produksi amonia sebagai bahan baku pupuk urea. Selain itu juga digunakan untuk mereduksi logam pada industri baja. Dewasa ini pemanfaatan hidrogen sudah dikembangkan sebagai sumber energi baik untuk bahan bakar kendaraan, pembangkit listrik, maupun bahan bakar roket. Hidrogen sebagai bahan bakar memiliki keunggulan dibandingkan bahan bakar konvensional lainnya yaitu energi yang dihasilkan tinggi (-286 kJ/mol) dan tidak menghasilkan polusi.

Hidrogen umumnya dibuat melalui reaksi reforming gas alam. Seiring menurunnya ketersediaan cadangan gas alam, salah satu metode alternatif yang digunakan yaitu melalui elektrolisis air. Proses produksi hidrogen melalui elektrolisis air terkendala dengan biaya operasi yang tinggi. Hal ini dikarena proses elektrolisis memerlukan energi yang tinggi. Salah satu alternatif lain yang dapat digunakan yaitu reforming gas metana.

Coal Bed Methane (CBM), yaitu gas yang sebagian besarnya terdiri atas metana yang teradsopsi dalam pori-pori pada matriks (lapisan dalam) batubara. Komposisi CBM terdiri dari 90 – 95% gas metana dengan sedikit hidrokarbon jenis butana dan propana. CBM tersimpan di lapisan-lapisan batubara kategori low-rank pada kedalaman antara 400 – 1000 m, tersebar disebelas basin batubara di kawasan Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi. Estimasi potensi sumberdaya CBM Indonesia yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi adalah sekitar 450 Tcf.

Proses produksi hidrogen dengan bahan baku CBM meliputi treatment awal menggunakan molecular sieve untuk memisahkan kandungan hidrat pada gas, kemudian steam reforming dan shift converter yang menghasilkan syngas, dan pemurnian hidrogen menggunakan pressure swing adsorption. Proses ini mampu menghasilkan gas hidrogen dengan kemurnian 99,99%.

Pabrik direncanakan beroperasi secara kontinyu 24 jam selama 320 hari pertahun operasi dengan perencanaan sebagai berikut:

a. Kapasitas produksi              = 20.000 ton/tahun.

b. Jumlah tenaga kerja             = 123 orang

c. Kebutuhan bahan baku       = 129707 ton/tahun

Pabrik Hidrogen ini direncanakan mulai dibangun pada tahun 2014 di Sumatera Selatan-Indonesia, dan direncanakan selesai pada tahun 2016. Daerah Sumatera Selatan dipilih karena lokasinya yang dekat dengan ketersediaan bahan baku. Sumber dana investasi berasal dari modal sendiri sebesar 25 % biaya investasi dan pinjaman jangka pendek sebesar 75 % biaya investasi dengan bunga sebesar 8,64 % per tahun Dari analisa perhitungan ekonomi didapat hasil-hasil sebagai berikut :

  • Investasi                                : Rp    551,793,893,441.02
  • Internal Rate of Return      : 9,213 %
  • PBP                                         : 2,3 tahun
  • BEP                                         : 46 %

Dari ketiga parameter sensitifitas yaitu fluktuasi biaya investasi, harga bahan baku, dan harga jual dari produk, terlihat bahwa ketiganya tidak memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap kenaikan atau penurunan nilai IRR pabrik. Sehingga pabrik Hidrogen ini layak untuk didirikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s