Pabrik Karagenan Dari Eucheuma Cotonii


Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulaunya mencapai 13.466 pulau dan dengan panjang pantai yang mencapai 95.181 km, dengan panjang pantai terbesar keempat di dunia Indonesia memiliki peluang dan potensi budidaya komoditi laut yang sangat besar untuk dikembangkan. Luas potensi budidaya laut diperkirakan mencapai 26 juta Ha, dan kurang lebih dua juta Ha dari luas tersebut berpotensi untuk budidaya rumput laut dengan potensi produksi rumput laut kering rata-rata 16 ton per Ha.

Terdapat kurang lebih 782 jenis rumput laut yang hidup di perairan Indonesia saat ini. Jumlah tersebut terdiri dari 196 algae hijau, 134 algae coklat, dan 452 algae merah. Namun dari sekian banyaknya algae yang hidup di perairan laut Indonesia, sampai saat ini hanya terdapat beberapa jenis rumput laut yang telah dikembangkan dan dibudidayakan di Indonesia di antaranya jenis Euchema spinosum, Euchema cottonii dan Gracilaria sp. Rumput laut merupakan bahan baku dari beberapa industri pangan dan non pangan. Salah satu industri yang menggunakan rumput laut sebagai bahan bakunya adalah industri karagenan.

Berdasarkan hasil produksinya, rumput laut di Indonesia ini sangat berlimpah, namun ironinya jumlah produksi karagenan masih sangat minim sekali. Sehingga Indonesia perlu adanya penambahan produksi karagenan, selain itu dalam rangka untuk mewujudkan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan ekspor hasil olah kelautan,salah satunya karagenan. Oleh karena itu, disusunlah tugas pra desain pabrik ini dengan judul “PABRIK KARAGENAN DARI EUCHEUMA COTTONII”.

Bahan baku utama karagenan adalah rumput laut merah (Rhodophyceae) jenis alvarezii atau lebih dikenal dengan nama Eucheuma cottonii dan bahan pembantu larutan alkali (KOH 12%) dan air yang digunakan dalam proses ekstraksi rumput laut serta larutan KCl yang digunakan dalam proses pengendapan pembuatan karagenan.

Karagenan memiliki banyak kegunaan, di antaranya sebagai bahan pembentuk gel, pengemulsi, bahan pengental, penstabil, dan bahan pengikat. Selain kegunaan dalam industri makanan, karagenan juga digunakan dalam manufaktur keramik, dalam farmasi, dan pupuk.

Terdapat dua metode dalam pembuatan karagenan yaitu proses murni dan semimurni. Metode yang dipilih  dalam pembuatan kappa karagenan adalah karagenan proses murni (Refined Process Carrageenan). Dasar pemilihan metode ini adalah metode ini menghasilkan karagenan yang memiliki sifat yang menghasilkan gel lebih unggul., Produk dapat digunakan dalam banyak bidang, dan harga jual yang lebih tinggi daripada karagenan semimurni.

Proses yang dilakukan terhadap rumput laut untuk menghasilkan kappakaragenan dapat dibagi menjadi 5 tahapan utama, yaitu persiapan bahan baku, ekstraksi, separasi, presipitasi, dan penanganan produk. Persiapan bahan baku meliputi pengolahan rumput laut Eucheuma cottonii dicuci di dalam bak pencuci (F-110). Setelah bersih dari pengotor, rumput laut dibawa ke rotary cutter (C-120) untuk dipotong, yang bertujuan memperluas permukaan kontak rumput laut dengan solvent pada proses ekstraksi karaginan sehingga dapat berjalan lebih sempurna.

Tahap ekstraksi merupakan tahap paling penting dalam proses pembuatan karagenan. Eucheuma cottonii dari rotary cutter (C-120) dibawa ke reaktor κ-karaginan (R-210) dan dilakukan proses ekstarksi dengan menambahkan larutan alkali yaitu KOH 12% dan dengan kondisi operasi pada tekanan 1 atm dengan temperatur output 85°C serta waktu tinggal selama 3 jam. Tahap selanjutnya yaitu tahap separasi, hasil reaksi yang berupa slurry dipisahkan antara filtrat dan cake dengan menggunakan filter press (H-220). Setelah melalui tahap separasi kemudian tahap presipitasi, dalam proses ini filtrate ditambahkan larutan KCL 0,05% dari massa filtrate  untuk membantu terbentuknya fiber karagenan. Larutan yang mengandung serat karagenan ini dipisahkan dari cake di dalam rotary drum vacuum filter (H-240). Pada hydraulic press (C-310) cake yang dihasilkan kemudian  diubah kedalam bentuk lembaran.

Tahap terakhir dalam pembuatan karagenan ini adalah tahap penanganan produk, Untuk mendapatkan spesifikasi produk yang diinginkan, lembaran karagenan perlu dihancurkan dengan menggunakan ball mill (C-310) sehingga didapatkan karagenan powder. Karagenan powder distandarisasi dengan ayakan atau screen (H-320) standart 60 mesh. Karagenan powder, yang merupakan produk akhir, dikemas dalam kantong-kantong polyethylene dan siap untuk dipasarkan.

 Proses pembuatan karagenan ini memerlukan bahan baku Euchema cottonii sebanyak 13.407,24 ton/tahun untuk memproduksi karagenan sebesar 7.000 ton/tahun Sehingga laju produksi karagenan adalah sebesar 883,838 kg/jam dan dengan laju bahan baku yang digunakan sebesar 1692,833 kg/jam. Pembuatan karagenan ini dibutuhkan sumber energi panas dalam proses ekstraksi. Sumber energi  panas yang digunakan adalah steam. Sehingga untuk laju produksi karagenan 883,838 kg/jam dibutuhkan steam sebesar 95,176 kg/jam.

Alat utama yang digunakan pada proses pembuatan karagenan adalah Reaktor (R-210). Pada reaktor ini terjadi proses ekstraksi karagenan dari Eucheuma cottonii serta mereaksikan µ-karaginan dengan KOH menjadi κ-karaginan. Proses ini berlangsung secara batch sehingga digunakan dua reaktor agar memenuhi kapasitas yang diinginkan. Reaktor yang dugunakan masing-masing memiliki diameter 4.57 meter dan tinggi 8.4 meter, serta  dilengkapi dengan koil pemanas yang menjaga temperatur di dalam reaktor terjaga sebesar 85°C.

Berikut perencanaan pabrik karaginan dari Eucheuma cottonii ini:

–    Lokasi pabrik                      =Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep),Sulawesi Selatan

–    Kapasitas pabrik                 =  7.000 ton/tahun

–    Kebutuhan bahan baku      =  1692,833 kg/jam

–   Jumlah tenaga kerja            = 100 orang pekerja

–    Tahun pendirian                 =  2014

–    Masa konstruksi                 = 2 tahun

–    Umur pabrik                       =  10 tahun

–    Operasi semi batch selama 24 jam/hari selama 330 hari

–    Investasi yang diperlukan =  Rp. 615.553.299.379

–    Pabrik karagenan dariEucheuma cottonii ini berbentuk Perseroan terbatas (PT)

–    Struktur organisasi yang diterapkan adalah struktur garis dan staf

Pabrik Karagenan ini akan dibangun di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) provinsi Sulawesi Selatan dengan pertimbangan daerah ini Eucheuma cottonii sebagai bahan baku banyak dibudidayakan, selain itu daerah ini letaknya strategis.

Karagenan yang dihasilkan dijual dengan harga Rp. 120.000/kg dan dengan bahan baku (Eucheuma cottonii) berharga Rp10.000/kg. Berdasarkan perhitungan anilisa ekonomi pendirian pabrik ini sebagai berikut: Interest Rate of Return (i) = 31,94% sehingga i yang dihasilkan lebih besar dari bunga pinjaman, yaitu 12 % pertahun.Pay Out Time (POT)= 2,6 tahun, waktu pengembalian modal minimum lebih kecil dari perkiraan usia pabrik.Break Even Point (BEP)= 37,41%

Bedasarkan hasil analisa ekonomi pabrik ini layak untuk didirikan. Sehingga diharapkan dengan adanya pabrik karagenan dari Eucheuma cottonii ini dapat membantu usaha Pemerintah dalam hal meningkatkan ekspor hasil olahan rumput laut dan mengurangi ekspor rumput laut sebagai raw material.

Penulis :

Muniha Hikmah (munihahikmah@gmail.com)

Yusfin Rahayu (yusfin.rahayu@gmail.com)

3 thoughts on “Pabrik Karagenan Dari Eucheuma Cotonii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s