Pra Desain Pabrik Semen Portland dengan Waste Paper Sludge Ash sebagai Bahan Baku Alternatif


Perkembangan teknologi infrastruktur memegang peranan penting dalam pembangunan nasional. Untuk terus melakukan perkembangan pembangunan nasional, diperlukan material penunjang yaitu semen (Portland Cement). Untuk konstruksi bangunan, semen adalah bahan yang digunakan untuk mengikat bahan seperti batu, pasir, batu bata, dan sebagainya.

Saat ini industri semen di Indonesia telah mengalami perkembangan yang pesat dalam produksi semen. Meningkatnya pertumbuhan semen hingga saat ini masih dipengaruhi oleh tingginya pembangunan yang dilakukan oleh sektor swasta dan tingginya kebutuhan perumahan bagi masyarakat. Selain itu dengan semakin gencarnya Pemerintah dalam menjalankan beberapa proyek dalam program MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) sedikit banyak telah mempengaruhi permintaan semen di dalam negeri.

Perkembangan kapasitas terpasang industri semen di Indonesia terhitung sejak tahun 2012 telah mengalami beberapa perubahan dengan dilakukannya pembangunan atau perluasan dari pabrik-pabrik existing sebagai upaya dalam meningkatkan kemampuan pasok semen terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar semen di dalam negeri yang diperkirakan akan terus mengalami peningkatan hingga beberapa tahun mendatang.

Dengan peningkatan produksi semen nasional dari tahun ke tahun, penggunaan batu kapur sebagai bahan baku pembuatan semen juga semakin meningkat. Indonesia memiliki potensi gunung kapur yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Akan tetapi, saat ini sudah banyak dilakukan eksplorasi dan eksploitasi gunung kapur. Konsumsi batu kapur meningkat dari tahun 2012 ke tahun 2013. Batu kapur sebagai konsumsi nasional banyak digunakan untuk produksi semen dan kapur, produksi ornamen, produksi barang gelas, dan sebagainya. Dari rincian tersebut, penggunaan batu kapur untuk produksi semen merupakan penggunaan yang terbanyak hingga 87,4% dari konsumsi total yaitu sebesar 5.047.263,31 ton. Oleh karena itu, saat ini banyak bermunculan penelitian-penelitian yang bertujuan untuk mencari bahan baku alternatif agar produksi semen di masa mendatang tetap berjalan dengan baik.

Sampai saat ini bahan baku yang digunakan oleh para produsen semen di Indonesia adalah bahan alam berupa batu kapur yang merupakan bahan alam yang tidak terbarukan. Dengan semakin meningkatnya kapasitas produksi, tentunya semakin banyak bahan alam yang digunakan. Bila hal ini terus dilakukan, selain suatu saat produksi semen dapat berhenti jika bahan alam tersebut telah habis, hal tersebut menyebabkan keseimbangan alam akan tergangggu sehingga dapat menimbulkan banyak bencana alam.

Penelitian terhadap bahan baku alternatif pembuatan semen sudah banyak dilakukan baik itu dari sampah maupun dari limbah industri lainnya. Salah satu limbah industri yang masuk dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yaitu paper sludge ash yang dihasilkan dari industri pulp dan kertas. Paper sludge ash yang adalah hasil dari lumpur yang mengendap dalam sistem instalasi pengolah air limbah (IPAL) yang kemudian dilewatkan ke dalam belt press dan dibakar sehingga menghasilkan ash. Sampai saat ini paper sludge ash belum dimanfaatkan secara optimal sehingga menjadi masalah bagi industri pulp dan kertas karena diperlukan lahan yang luas untuk menampung limbah ini baik dengan cara dipendam (land fill) maupun ditumpuk (opened dumping).

Namun beberapa tahun sebelumnya, mulai ada penelitian mengenai paper sludge ash. Ternyata limbah tersebut memiliki kandungan kimia (chemical components) yang sama dengan komposisi yang diperlukan dalam pembuatan semen. Oleh karena itu, saat ini mulai banyak penelitian untuk pemanfaatan lebih dalam terkait paper sludge ash untuk digunakan dalam proses produksi semen. Akan tetapi, walaupun telah banyak penelitian, belum ada tindak lanjut dan komersialisasi terhadap bahan baku alternatif paper sludge ash tersebut.

Limbah pabrik pulp dan kertas dapat berupa limbah cair dan limbah sludge. Limbah sludge atau residu lumpur berasal dari penanganan primer dan sekunder limbah cairnya. Umumnya, sludge ditanggulangi dengan cara dibakar di incinerator atau dibuang dengan sistem open dumping. Walaupun sludgenya merupakan material yang relatif homogen, usaha untuk mendaur ulang dan memanfaatkannya menjadi produk berguna hampir tidak terdengar di Indonesia.

Hasil pembakaran dari limbah sludge pabrik pulp dan kertas di incinerator akan menghasilkan waste paper sludge ash (WPSA) yang memiliki kandungan kimia (chemical components) yang sama dengan komposisi yang diperlukan dalam pembuatan semen, sehingga WPSA dapat digunakan sebagai campuran dalam pembuatan semen.

Di sisi lain, menurut hasil analisis data yang dilakukan oleh PT Citra Cendekia Indonesia (CCI) dalam buku “Studi tentang Prospek Industri Semen di Indonesia 2013”, Kapasitas produksi semen di dalam negeri diperkirakan akan terus meningkat yaitu dari 65,9 juta ton per tahun pada tahun 2013 menjadi 75,3 juta ton pada tahun 2015 dan akan bertahan hingga tahun 2017. Sedangkan konsumsi semen di dalam negeri diproyeksikan akan meningkat rata-rata 8,6% per tahun dari 57 juta ton pada tahun 2013 menjadi 79,6 juta ton pada tahun 2017.

Konsumsi semen terbesar masih diserap oleh wilayah Jawa yang akan mencapai 31,5 juta ton, kemudian terus meningkat hingga tahun 2017 diperkirakan akan mencapai 43,8 juta ton. Laju konsumsi tercepat diperkirakan berada di wilayah Kalimantan dan Nusa Tenggara yang masing-masing 10% per tahun disusul wilayah Sulawesi sekitar 9,8% per tahun. Jika utilitas produksi pabrik semen di Indonesia dapat mencapai kapasitas penuh (100%) sesuai dengan rencana perluasan, maka pada tahun 2017 diperkrakan akan terjadi kekurangan pasokan semen sekitan 4,3 juta ton. Jika utilitas produksi hanya sekitar 88%, maka pada tahun 2015 sudah terjadi kekurangan pasokan semen di dalam negeri yaitu sekitar 1,15 juta ton.

Pabrik semen ini direncanakan akan didirikan di Desa Menyunyur, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur pada tahun 2017. Penentuan lokasi pabrik berorientasi pada sumber bahan baku yang berupa batu kapur, tanah liat, dan Waste Paper Sludge Ash.

Pabrik direncanakan beroperasi secara kontinu 24 jam selama 300 hari per tahun dengan kapasitas produksi 2.000.000 ton/tahun (direncanakan dapat memasok sekitar 3 % kebutuhan pasar pada tahun 2017) dengan kebutuhan bahan baku batu kapur 205.899,22 kg/jam, tanah liat 15.785,61 kg/jam, dan Waste Paper Sludge Ash 94.027,31 kg/jam.

Penulis:

Rasdiana Rahma Nur (rasdiana.rahma@gmail.com)

Firda Dwi Hartanti (hartanti.firda@gmail.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s