Pra Desain Pabrik Hidrogen dari Batubara


Energi merupakan sektor strategis mengingat keterkaitannya dengan ekonomi dan lingkungan. Energi sangat diperlukan guna melaksanakan pembangunan perekonomian, namun dengan tetap mempertimbangkan aspek lingkungan agar tercipta pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, sumber daya alam yang ada seharusnya dieksplorasi dan dimanfaatkan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip perlindungan terhadap kesinambungan lingkungan dan ekosistem yang ada.

Selama tahun 2000-2011, konsumsi energi final meningkat rata-rata 3% per tahun. Konsumsi energi final terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, penduduk, dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah. dalam Outlook Energi Indonesia 2013, pertumbuhan rata-rata kebutuhan energi diperkirakan sebesar 4,7% per tahun selama tahun 2011-2030. Pertumbuhan kebutuhan energi tersebut diperkirakan akan semakin tinggi karena pemerintah sedang melaksanakan program peningkatan nilai tambah mineral sesuai dengan amanat UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Kebijakan ini ditindaklanjuti pelaksanaannya melalui melalui regulasi dalam PP No. 23 Tahun 2010 tentang pelaksanaan usaha pertambangan mineral dan batubara dan Inpres No. 3 Tahun 2013 tentang percepatan peningkatan nilai tambah mineral melalui pengolahan dan pemurnian di dalam negeri. Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertambangan sehingga perannya dalam perekonomian nasional meningkat.

Di antara sekian banyak peningkatan kebutuhan energi di Indonesia, salah satu yang cukup menarik untuk ditinjau adalah kebutuhan hidrogen. Perkembangan sektor perindustrian di Indonesia berakibat pada semakin meningkat pula kebutuhan energi, dan salah satunya adalah hidrogen. Hidrogen merupakan salah satu gas yang memiliki banyak fungsi di dunia industri. Di antaranya adalah sebagai agen sintesis senyawa organik, katalis dalam proses hydrocracking, hidroalkelasi, dan hidrodesulfurisasi dalam industri petrochemical, katalis proses hidrogenasi lemak dalam industri food and beverages, agen reduktor dalam industri material, dan masih banyak lagi. Namun pada kenyataannya, produksi hidrogen di Indonesia sekarang ini masih belum mampu menutupi kebutuhan pasar industri, sehingga mengakibatkan pemerintah harus melakukan impor hidrogen dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dan data impor ini semakin meningkat dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini.

Sampai saat ini, pembuatan hidrogen di Indonesia masih menggunakan gas alam. Bila ditinjau berdasarkan cadangannya, lama kelamaan gas alam tersebut akan habis dan untuk selanjutnya harus mencari sumber lain yang dapat menghasilkan hidrogen. Batubara merupakan salah satu sumber yang dapat digunakan untuk memproduksi hidrogen. Salah satu keuntungan dari batubara sebagai bahan baku pembuatan hidrogen adalah karena batubara masih memiliki cadangan yang besar di Indonesia dan belum diolah secara maksimal oleh berbagai industri yang ada.

Cadangan gas alam Indonesia sebesar 182 Trilliun Cubic Feed (TCF)., atau sebesar 1,7% dari cadangan gas alam dunia, dan produksinya sebesar 3 Trilliun Cubic Feed (TCF) per tahun sehingga cadangan gas alam Indonesia diperkirakan masih cukup untuk 50 tahun lagi. Selain gas alam, Indonesia masih memiliki cadangan batubara yang melimpah. Cadangan batubara nasional sebesar 19,3 miliar ton atau 0,4% dari cadangan batubara dunia. Produksi batubara di Indonesia sebesar 130 juta ton per tahun. Dengan demikian, cadangan batubara Indonesia diperkirakan masih cukup untuk kebutuhan 137 tahun ke depan.

Pabrik direncanakan beroperasi secara kontinu 24 jam selama 330 hari per tahun dengan kapasitas produksi 35.000 ton/tahun dengan kebutuhan bahan baku batubara sebanyak 277.200 ton/tahun, oksigen sebanyak 156.816 ton/tahun. Sumber daya batubara terbesar berasal dari Pulau Kalimantan yaitu sekitar 53% dari total produksi batubara nasional. Batubara yang akan diproses berasal dari PT. Kaltim Prima Coal dengan potensi batubara sebesar 53.415.507 ton/tahun.

Pabrik hidrogen ini direncanakan akan didirikan di daerah Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur pada tahun 2020. Penentuan lokasi pabrik didasarkan pada ketersediaan sumber bahan baku.

Proses pembuatan hidrogen dari batubara ini dibagi menjadi tiga bagian proses utama, yaitu:

  • Persiapan bahan baku : berupa berbagai macam perlakuan pada bahan baku agar sesuai dengan kondisi yang diperlukan dalam tahap sintesa.
  • Sintesa : berupa proses pembuatan syngas dari batubara.
  • Purifikasi : berupa proses pemurnian gas hidrogen dari gas-gas lain sampai kemurnian 99,99%.

Penulis:

Fritz Adhinata (fritzadhinata@ymail.com)

Mar’atul Fauziyah (maratul.fauziyah01@gmail.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s