Pra Desain Pabrik Gula Cair dari Tebu (Liquid Cane Sugar)


Industri berbasis perkebunan mempunyai kemampuan sebagai leading sector dalam pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan juga mendorong perbaikan distribusi pendapatan. Salah satu industri hilir perkebunan tersebut adalah industri gula. Industri gula erat kaitannya dengan sumberdaya lokal karena produksi bahan bakunya melibatkan banyak petani tebu. Gula  juga memiliki keterkaitan dengan berbagai industri hilir, seperti industri makanan, industri minuman, industri gula rafinasi, industri farmasi, industri kertas, industri MSG, dan sebagainya. Gula juga termasuk salah satu kebutuhan pokok masyarakat, khususnya sebagai sumber kalori.

Indonesia sebagai salah satu negara produsen gula, pada tahun 2010 mempunyai 61 Pabrik Gula (PG) berbahan baku tebu dengan total kapasitas 225.018 TCD didukung areal seluas 418.259 Ha, dan 8 PG Rafinasi dengan total kapasitas 3,2 juta ton GKR/Tahun. Dengan jumlah tersebut, Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. Angka kebutuhan yang meningkat tidak diiringi dengan kenaikan produksi yang memadai. Pada tahun 2013, impor gula Indonesia hampir mencapai angka 50%.

Rendahnya produksi ini disebabkan oleh berbagai faktor, yakni efisiensi pabrik yang terus mengalami penurunan, rendahnya rendemen pabrik, menurunnnya produktivitas lahan, rendahnya tingkat pertumbuhan areal tanam tebu, kurangnya pembangunan PG baru, utamanya di luar pulau Jawa, dan kurang maksimalnya kebijakan oleh pemerintah.

Untuk itu pemerintah melalui Roadmap Industri Gula, menargetkan swasembada pada tahun 2014. Pemerintah mengeluarkan kebijakan dengan menggelontorkan dana cukup besar guna perluasan lahan dan pembangunan PG baru terutama di wilayah luar Pulau Jawa. Meskipun masih jauh dari target, di era pemerintahan yang baru, swasembada gula kembali diwacanakan.

Pabrik Gula Cair menjadi salah satu alternatif untuk membangun pabrik gula baru. Produktivitas tebu bisa ditingkatkan menjadi dua kali lipat jika dibuat menjadi gula cair dibanding jika diproduksi menjadi gula kristal. Penggunaannya dalam industri makanan dan minuman pun akan lebih praktis dan hemat energi, karena tidak perlu memanaskan larutan untuk mencarikan gula kristal. Dari sisi produksi, pablik gula cair dapat meningkatkan nilai ekonomi pabrik, dimana konsumsi energi lebih rendah akibat gula yang dkemas dalam bentuk cair tidak perlu mengalami proses kristalisasi.

Pabrik Gula Cair ini direncanakan akan dibangun di Kabupaten Tinaggea, Sulawesi Tenggara, memiliki lahan seluas 22.000 ha. Dari lahan tersebut diperkirakan 945.000 ton tebu/tahun akan dihasilkan. Dengan waktu produksi 180 hari/tahun, kapasitas pabrik terpasang adalah 5.250 TCD.

Setelah tebu ditebang dikebun, kemudian tebu di antar ke pabrik secepat mungkin dengan tenggang waktu 24 jam dengan tujuan untuk menjaga kualitas tebu. Karena bila lewat 24 jam kualitas tebu akan ber kurang dikarenkan penguraian  sukrosa  yang  terdapat  dalam  tebu  oleh  mikroorganisme  sehingga kadar gula dalam tebu akan menurun dan tebu akan terasa asam. Tebu dari lori di bawa ke Cane Table lalu pemasukan tebu ke Cane Carrier diatur sedemikian rupa sehingga memenuhi kapasitas gilingan yang direncanakan.

Oleh Cane Carrier tebu dibawa masuk kedalam cane leverler untuk pengaturan masuk tebu kedalam Cane Cutter I. Pada Cane Cutter I tebu dipotong- potong untuk memperkecil ukuran, kemudian selanjutnya Cane Carrier membawa tebu ke Cane Cutter II untuk dicacah lebih halus lagi. Kemudian tebu dibawa ke stasiun gilingan. Pada stasiun gilingan ini dilakukan pemerasan tebu dengan tujuan untuk mendapatkan nira sebanyak-banyaknya. Pemerasan dilakukan dengan 5 set three roll mill  yaitu unit gilingan I sampai V dimana setiap unit gilingan terdapat 3 roll yang diatur sedemikian rupa membentuk sudut 120°, dan pada masing-masing gilingan terjadi 2 kali pemerasan. Nira hasil perasan di gilingan I dan II ditampung di tangki nira mentah yang kemudian dipompakan menuju saringan nira mentah. Ampas dari Gilingan dilanjutkan ke Gilingan II, demikian seterusnya sampai ke Gilingan V sampai kebelakang ampas tebu akan semakin kering sehingga nira yang diperas benar- benar maksimal. Pada gilingan V ditambahkan air imbibisu pada suhu 70oC sebagai air imbibisi. Nira yang dihasilkan oleh Gilingan V merupakan nira imbibisi untuk gilingan IV, nira dari gilingan IV sebagai imbibisi pada gilingan III, dan nira dari gilingan III sebagai imbibisi pada gilingan II. Kemudian hasil perasan nira dari Gilingan I dan dari Gilingan II ditampung pada Tangki Penampung Nira. Kemudian nira mentah dialirkan ke proses pemurnian.

Nira mentah dari Tangki Penampung Nira dialirkan melalui pipa kesaringan DSM Screen. Kemudian dialirkan ke Tangki Nira Mentah Kemudian nira mentah dicampurkan dengan asam fosfat dan dialirkan ke Juice Heater untuk  dipanaskan sampai suhu 80°C dengan pemanas steam. Kemudian dialirkan menuju Tangki Defekasi. Pada proses ini, nira mentah yang berasal dari proses Juice Heater I ditambahkan dengan Ca(OH)2. Bahan  yang dipakai pada proses ini adalah susu kapur. Nira yang telah terkapur masuk kedalam Tangki Sulfitasi. Lalu nira dialirkan ke Juice Heater II, disini nira dipanaskan dengan steam sampai suhu 100°C. Nira hasil proses sulfitasi dialirkan kedalam tangki Flash Tank agar tidak mengganggu proses pengandapan untuk menghilangkan gas SO2 yang tidak bereaksi. Dari Flash Tank nira dialirkan ke tangki pengendapan Clarifier yang berfungsi untuk mengendapkan kotoran hasil pemurnian dengan menambahkan flokulan. Pada tangki ini terdapat proses pemisahan nira jernih atau nira encer dari nira kotor. Nira jernih dialirkan secara over flow ke Tangki Nira Jernih, sedangkan nira kotor keluar melalui bagian bawah dialirkan ke Rotary Vacuum Filter, kemudian sludge dipisahkan dan dihasilkan ampas yang berupa blotong dan nira jernih. Kemudian nira jernih hasil dari Rotary Vacuum Filter dialirkan ke Tangki Nira Jernih.

Kemudian nira jernih ini dialirkan ke proses penguapan untuk mengurangi kadar air yang terdapapt pada nira encer agar diperoleh nira yang lebih kental, dengan kentalan 62-65%. Penguapan ini dilakukan pada suhu 65-108°C dengan empat tahap yang disebut “Quadrapel Effect Evaporator”, dengan menggunakan cara forward  feed.  Steam  masuk  ke Evaporator Efek I dengan suhu 120°C. Perbedaan tekanan pada masing-masing evaporator akan mengakibatkan nira mengalir sacara otomatis dari badan I ke badan berikutnya. Nira yang masuk pada tiap-tiap badan evaporator akan bersirkulasi hingga mencapai kepekatan tertentu. Kemudian secara otomatis katup (valve) akan terbuka dan nira mengalir kebadan berikutnya. Demikian seterusnya sampai pada badan evaporator terakhir dengan kepekatan 65%. Nira  kental  yang  telah  melewati  proses  penguapan  ini kemudian dialirkan ke Tangki Penyimpanan Liquid Cane Sugar , dan selanjutnya liquid cane sugar akan di proses pada proses packing. Pemasaran ke Industri makanan dan minuman akan di kirim sesuai pesanan mulai dari packing jerigen sampai dalam bentuk tangki yang kemudian akan dipindahkan ketangki milik industri yang menjadi konsumen.

Dari perhitungan analisa ekonomi, Internal Rate Return (IRR) yang diperoleh sebesar 27% dimana dengan IRR tersebut mengindikasikan bahwa layak untuk didirikan dengan suku bunga sebesar 10,5% dan diperoleh Pay Out Time (POT) sebesar 3,51 tahun. Perhitungan analisa ekonomi didasarkan pada discounted cash flow. Modal yang dibutuhkan untuk mendirikan pabrik sebesar Rp  1.713.350.168.035 Sedangkan Break Even Point (BEP) yang diperoleh sebesar 46%.

Penulis :
Ilham Anugrah Permata (ilhamanugrahpermata@yahoo.co.id)
Hasan Isma’il (hasan11@mhs.chem-eng.its.ac.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s