PRA DESAIN PABRIK PUPUK ORGANIK GRANUL DARI WASTE ORGANIK


Indonesia merupakan Negara agraris yang sebagian besar penduduknya adalah petani, sehingga sektor pertanian memiliki peranan penting karena mampu menyediakan banyak lapangan kerja. Menurut Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kemterian Pertanian Republik Indonesia, luas lahan pertanian di Indonesia adalah sebesar 3.057.294 Ha. Dengan luasnya lahan pertanian ini maka diperlukan suatu industri yang menunjang proses pertanian, salah satunya adalah industri pupuk. Penggunaan pupuk secara tepat akan menentukan kualitas dan kuantitas produk pertanian yang dihasilkan.

Berdasarkan bahan pembuatannya pupuk dibagi menjadi dua macam, yakni pupuk organik (pupuk alami) dan pupuk anorganik (pupuk kimia). Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan/atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik. Sedangkan pupuk anorganik mencakup bahan-bahan kimia angorganik berkadar hara tinggi. Kandungan unsur hara dari pupuk organik memang tidak terlalu tinggi, namun jenis pupuk ini mempunyai keunggulan lain yaitu dapat memperbaiki sifat – sifat fisik tanah seperti permeabilitas tanah, porositas tanah, struktur tanah, daya menahan air dan kation – kation tanah.

Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat. Kerusakan tanah secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama, yaitu kerusakan sifat kimia, fisika dan biologi tanah. Kerusakan kimia tanah dapat terjadi karena proses pemasaman tanah, akumulasi garam-garam (salinisasi), tercemar logam berat, dan tercemar senyawa-senyawa organik dan xenobiotik seperti pestisida atau tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001). Terjadinya pemasaman tanah dapat diakibatkan penggunaan pupuk nitrogen buatan secara terus menerus dalam jumlah besar (Brady, 1990). Kerusakan tanah secara fisik dapat diakibatkan karena kerusakan struktur tanah yang dapat menimbulkan pemadatan tanah. Kerusakan struktur tanah ini dapat terjadi akibat pengolahan tanah yang salah atau penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Kerusakan biologi ditandai oleh penyusutan populasi maupun berkurangnya biodiversitas organisme tanah, dan terjadi biasanya bukan kerusakan sendiri, melainkan akibat dari kerusakan lain (fisik dan atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (dalam bentuk ammonium sulfat dan sulfur coated urea) yang terus menerus selama 20 tahun dapat menyebabkan pemasaman tanah sehingga populasi cacing tanah akan turun dengan drastis (Ma et al., 1990).

Pupuk organik dapat mengurangi pencemaran lingkungan karena bahan-bahan organik tersebut tidak dibuang sembarangan yang dapat mengotori lingkungan terutama badan perairan umum. Penggunaan bahan organik sebagai pupuk merupakan upaya pencip-taan siklus unsur hara yang sangat bermanfaat dalam mengoptimalkan pemakaian sumber daya alam yang terbarukan. Bahan organik juga dapat mengurangi unsur hara yang bersifat racun bagi tanaman serta dapat digunakan untuk mereklamasi lahan bekas tambang dan lahan yang tercemar (http://pustaka.litbang.deptan.go.id).

Penggunaan pupuk di Indonesia meningkat dari tahun 2008 hingga 2009 dan peningkatan paling drastis terjadi pada pupuk organik. Hal ini disebabkan banyaknya petani yang mulai sadar akan dampak penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus. Persentase peningkatan penggunaan pupuk dari tahun 2008-2009 dapat ditunjukkan oleh grafik di bawah ini.

Kebutuhan pupuk organik meningkat setiap tahunnya, seiring dengan meningkatnya permintaan dari sektor pertanian maupun perkebunan. Menurut survey tang dilakukan PT. Central Data Mediatama Indonesia (CDMI), tahun 2011 kebutuhan pupuk organik mencapai 12,3 juta ton, tahun 2012 meningkat mencapai 12,6 juta ton, dan tahun 2013 meningkat mencapai 12,9 juta ton. Hal yang sama juga terjadi dengan kebutuhan pupuk anorganik, terbesar adalah pupuk urea dengan tingkat konsumsi rata-rata di atas 70%.

Tujuan dari penentuan lokasi pabrik adalah untuk menunjang proses produksi di suatu pabrik agar dapat berjalan sesuai dengan rencana, lancar, efektif, dan efisien. Hal ini berarti dalam menentukan lokasi pabrik, perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi besarnya biaya produksi dan biaya distribusi dari produk yang akan dihasilkan, serta faktor-faktor pendukung lainnya. Industri pupuk adalah faktor penunjang penting dalam bidang pertanian, oleh karena itu industri pupuk sangat erat kaitannya dengan lahan pertanian yang tersedia. Maka lokasi pabrik dari pupuk organik yang dipilih adalah di kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah dengan pertimbangan sebagai berikut :

Suatu pabrik didirikan dekat dengan sumber bahan baku untuk tetap menjamin ketersediaan bahan-bahan tersebut, sehingga kontinuitas pabrik tetap terjamin. Setelah dilakukan analisa, maka dipilih kabupaten Temanggung sebagai tempat pendirian pabrik, karena Kabupaten Temanggung merupakan salah satu tempat yang menghasilkan sampah organik terbesar di daerah Jawa Tengah. Selain itu tempat ini memiliki lahan pertanian dan perkebunan yang cukup luas dengan luas pertanian sebesar 60.956 hektar, sehingga pemilihan tempat ini merupakan nilai pasar yang tinggi karena dekat dengan konsumen yang sebagian besar mata pencahariannya sebagai petani, limbah yang dihasilkan petani padi yaitu jerami padi dapat kita manfaatkan sebagai bahan baku. Kabupaten Temanggung juga merupakan daerah penghasil ternak terbesar di Indonesia khususnya sapi, unggas dan domba yang mana kotoran dari hewan ternak tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik.

Lokasi pabrik harus dekat dengan modal transportasi sehingga memudahkan dalam pengangkutan bahan baku dan penjualan produk. Lokasi kabupaten Temanggung dipilih karena daerah ini terletak di sebelah kota Semarang yang merupakan jalur distribusi perdagangan di Jawa.

Sungai Progo yang merupakan sumber air terbesar di Jawa Tengah dengan aliran sungainya berada di kabupaten maupun kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta, dengan luas 243.833,086 hektar, merupakan salah satu sumber air (debit) terbesar yang dapat dimanfaatkan sebagai air pendingin dalam proses produksi dan sebagai air pencuci alat-alat pabrik , karena lokasinya yang dekat dengan kawasan pabrik.

Indonesia adalah negara agraris dengan area pertanian seluas 30.669.904 Ha dan Kabupaten Temanggung merupakan salah satu daerah yang mayoritas masyarakatnya bekerja dalam bidang pertanian, serta memiliki lahan produktif yang luas dalam bidang tersebut, sehingga permintaan pasar nantinya akan sangat besar. Luas kabupaten Temanggung sebesar 87.065 hektar. Luas area pertanian di kabupaten Temanggung adalah 60.956 hektar atau sekitar 70% dari area kabupaten Temanggung.

Dari selisih pasokan pupuk di atas, pabrik pupuk organik yang akan didirikan diharapkan dapat memenuhi 0,55% dari total selisih pasokan. Maka kapasitas produksi pabrik organik yang akan didirikan adalah sebesar 47.861 ton

Pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 2010 tanggal 13 April 2010 tentang Revitalisasi Industri Pupuk meminta Departemen, Badan dan Institusi terkait untuk mempercepat revitalisasi industri pupuk di Indonesia. Pemerintah menghendaki adanya peningkatan daya saing industri pupuk pada tingkat nasional, regional dan global, baik untuk pupuk anorganik, organik maupun pupuk hayati. Kekurangan Pemerintah itu dilandasi kondisi perpupukan nasional yang masih kekurangan pasok, distribusi kurang lancar dan harga di tingkat petani seiring melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Pemerintah. Persoalan yang masih membelit industri pupuk nasional adalah belum optimalnya produksi pupuk sehingga terjadi ketimpangan antara kebutuhan dan kemamapuan pasok, dimana kebutuhan pupuk dalam negeri masih lebih besar dibandingkan kemampuan pasok pabrik pupuk.

Menurut prediksi Kementeerian Perindustrian tahun 2011, kebutuhan pupuk organik di Indonesia pada tahun 2011 adalah sebanyak 12,394 juta ton. Pabrik pupuk BUMN pada tahun yang sama diproyeksikan hanya memproduksi pupuk organik sebesar 2,601 juta ton. Kekurangan pupuk organik sebanyak 9,793 juta ton diserahkan kepada masyarakat dan kalangan swasta untuk bisa memenuhinya. Jumlah kebutuhan pupuk organik meningkat setiap tahunnya, sehingga di tahun 2015 jumlah kebutuhannya diperkirakan menjadi 13,4 juta ton. Padahal, kemampuan produksi pupuk organik dari BUMN di tahun 2015 tersebut diperkirakan hanya mencapai jumlah 4,69 juta ton. Dengan demikian masih terdapat kekurangan pasok pupuk organik sebesar 8,71 juta ton. Besarnya selisih antara jumlah kebutuhan dan kemampuan produksi pupuk organik dari pabrik pupuk BUMN merupakan peluang yang prospektif untuk mendirikan pabrik pupuk organik guna menutupi kebutuhan yang kurang dalam negeri. Dengan mendirikan pabrik pupuk organik, dapat memanfaatkan limbah-limbah yang tidak digunakan menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi, yang dibutuhkan oleh petani Indonesia.

Penulis:

Anggun Dwi Apriliani (apriliani9493@gmail.com)

Zulfatul Hanna (zulfatulhanna@gmail.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s