Pra Design Gula Kristal Putih 10.000 TCD


Disusun oleh :

Naufal Fauzan   2312100119

Vicky Dwi Putra 2312100021

Ringkasan

Gula merupakan salah satu bahan pokok yang penting bagi masyarakat dalam hal ini sebagai pemanis pada makanan dan minuman dan memberikan kalori pada tubuh manusia. Gula juga memiliki keterkaitan dengan berbagai industri hilir lainnya, antara lain industri makanan, industri minuman, industri farmasi, industri kertas, dan sebagainya. Dengan berbagai fakta tersebut, gula menjadi salah satu komoditas penting sehingga pemerintah wajib menjamin ketersediaan gula di pasar domestik dengan harga yang terjangkau.

Tantangan terberat bagi industri gula nasional adalah terus meningkatnya kebutuhan masyarakat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan perkembangan industri pengolahan makanan dan minuman berbahan baku gula. Menurut data dari Dewan Gula Indonesia konsumsi gula Indonesia tahun 2013 mencapai 5.200.000 ton, sedangkan produksi gula hanya 2.762.477 juta ton. Dengan jumlah tersebut, Indonesia belum bisa memenuhi kebutuhan gula dalam negeri, sehingga memaksa Indonesia untuk mengimpor gula untuk memenuhi kebutuhan gula setiap tahunnya.

Sebenarnya keinginan mencapai swasembada gula merupakan mimpi lama pemerintah Indonesia. Pada tahun 2002 pemerintah menargetkan Swasembada Gula pada tahun 2007. Untuk mencapai target tersebut dibentuklah Dewan Gula Indonesia (DGI) pada tahun 2003 (berdasarkan Kepres RI Nomor 63/2003 tentang Dewan Gula Indonesia). Namun target tersebut tidak tercapai sehingga pemerintah merevisi swasembada pada tahun 2009 yang mengalami kegagalan juga. Untuk melakukan akselerasi peningkatan produktivitas pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan-kebijakan yaitu antara lain kebijakan yang mendorong pembangunan pabrik gula baru dan revitalisasi pabrik gula yang kurang produktif.

Dengan potensi yang dimiliki Indonesia, dukungan pemerintah Indonesia melalui kebijakan-kebijakannya serta masalah tingkat konsumsi dan produktivitas gula yang tidak seimbang, maka pendirian Pabrik Gula Kristal Putih adalah salah satu solusinya.

Pabrik Gula Kristal Putih ini rencananya akan dibangun di Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo dengan pertimbangan ketersediaan bahan baku di Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo cukup melimpah, penyediaan utilitas yang mudah yaitu air disuplai dari Sungai Tilamuta, Provinsi Gorontalo memiliki UMR yang cukup rendah yaitu sebesar Rp.1.600.000 pada tahun 2015, serta faktor transportasi dimana Kabupaten Boalemo memiliki Pelabuhan Tilamuta untuk arus lalu lintas distribusi produk

Pabrik Gula Kristal Putih dibangun pada tahun 2016 dan akan mulai beroperasi pada tahun 2018 dengan kapasitas 10000 TCD (184.800 ton GKP per tahun) untuk memenuhi konsumsi dalam negeri sekitar 41,67% dari kebutuhan rata – rata gula kristal putih.

Proses awal Gula Kristal Putih ini dimulai dari dengan persiapan bahan baku yaiu tebu dengan dilakukan pengecilan ukuran sehingga dapat dengan mudah diambil cairannya di unit penggilingan. Mula-mula tebu dimasukkan Cane Table (A-111) kemudian akan dibawa ke Cane Cutter (C-113) dengan menggunakan Cane Carrier (J-112). Di Cane Cutter tebu dipotong-potong menjadi ukuran yang lebih kecil. Lalu dari Cane Cutter potongan tebu di bawa ke Cane Cutter (C-110) untuk dihancurkan menjadi serat-serat agar lebih mudah saat diolah di Gilingan (C-120). Di gilingan ini serat tebu diekstraksi untuk mengambil cairannya yang disebut nira. Nira inilah yang nantinya akan diproses menjadi gula.

Nira dari gilingan  disaring terlebih dahulu di DSM Screen (H-129), kemudian di bawa ke Tangki Penampung Nira Mentah (F-128) dimana disini ditambahkan dengan H3PO4 untuk meningkatkan kandungan fosfat dalam nira dan untuk mengendapkan kotoran yang terikut. Dari tangki penampungan, nira di pompa menuju Juice Heater I (E-214), selanjutnya terdapat penambahan Ca(OH)2 yang nantinya bereaksi dengan H3PO4 yang ada dan membentuk inti endapan berupa Ca3(PO4)2. Proses di static mixer ini dinamakan dengan proses defekasi. Defekasi yang digunakan adalah defekasi panas, dimana pada proses ini lebih ekonomis karena tidak membutuhkan peralatan yang banyak serta proses pemurniannya lebih baik dan cepat. Selanjutnya nira dipompa menuju reaktor sulfitasi untuk pemurnian lebih lanjut dimana kotoran nira diberikan sulfit sehinnga akan mudah mengendap.  Kemudian nira masuk ke Juice Heater II (E-223), dipanaskan pada suhu ± 100oC. Tujuannya untuk mempercepat pengendapan dan menyempurnakan reaksi. Keluar dari Juice Heater II nira masuk ke dalam Clarifier (H-230) untuk mengendapkan kotoran-kotoran yang ada dalam nira sehingga dapat dipisahkan dari nira. Dalam clarifier ditambahkan dengan flokulan untuk mempercepat proses pengendapannya. Endapan yang terbentuk masuk ke dalam Rotary Vacuum Filter (H-236) dimana akan terpisah amtara liquid dan padatannya keluar sebagai Blotong.

Nira yang telah bersih dibawa menuju Evaporator (V-410), untuk dipekatkan atau dikentalkan dengan cara menguapkan air yang ada dalam nira sehingga didapatkan nira kental dengan kepekatan yang diharapkan yaitu sekitar ± 60 Brix evaporator yang digunakan adalah 5 effect evaporator (quintuple).

Dari evaporator, nira dibawa menuju Vacuum Pan (V-410). Disini terjadi proses pengkristalan gula dari nira pada suhu ± 65oC. Setelah kristal gula terbentuk dengan ukuran yang diinginkan, diturunkan ke palung pendingin (M-413). Tujuan dari palung pendingin adalah untuk melanjukan proses kristalisasi yang telah terbentuk dalam vacuum pan. Dengan adanya pendinginan di palung pendingin dapat menyebabkan penurunan suhu masakan. Setelah dari palung pendingin gula di bawa ke Putaran I (H-420) untuk dipisahkan antara kristal gulanya dengan cairannya yang disebut dengan Stroop. Kristal gula yang telah terpisah dari Stroopnya dibawa ke Mixer (M-431). Kemudian dibawa ke Putaran II (H-430), yan akan memisahkan antara gula produk dengan cairannya yang disebut Klare. Klare yang dihasilkan akan dikembalikan lagi ke vacuum pan sebagai bahan masakan juga.

Gula yang didapat dibawa ke Rotary Dryer (B-510) untuk dikeringkan, setelah Kristal gula kering dimasukan ke Sugar Storage  sebagai tempat packaging. Gula yang dihasilkan akan dikemas dalam ukuran 1 kg.

Pabrik gula kristal ini memanfaatkan limbah ampas tebu (bagasse) sebagai bahan bakar boiler untuk menghasilkan steam, steam tersebut dimanfaatkan sebagai sumber energi PLTU dan mampu menghasilkan energy listrik sebesar 8 MW dimana masih tersisa sekitar 20 % bagasse. Pabrik gula ini memanfaatkan waste water dari tebu sebagai sumber air untuk umpan boiler dan proses.

Dari perhitungan analisa ekonomi, Internal Rate Return (IRR) yang diperoleh sebesar 13% dimana dengan IRR tersebut mengindikasikan bahwa layak untuk didirikan dengan suku bunga sebeasar 7.5% dan diperoleh Pay Out Time (POT) sebesar 6 tahun. Perhitungan analisa ekonomi didasarkan pada discounted cash flow. Modal yang dibutuhkan untuk mendirikan pabrik sebesar 1,995,492,967,698   Sedangkan Break Even Point (BEP) yang diperoleh sebesar 36%.

Informasi lebih lanjut :perdalpro123@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s